Dialog Interaktif Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lebak dengan tema mempertegas peran mahasiswa Islam untuk menjaga alam dari Pembangunan ekstraktfi yang merusak banten.
Dialog Interaktif Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lebak dengan tema mempertegas peran mahasiswa Islam untuk menjaga alam dari Pembangunan ekstraktfi yang merusak banten.

LEBAK, beritajuang.com– Dalam dialog tersebut HMI Cabang Lebak mengundang pemateri dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Rakyat Banten, jaringan tambang dan pemerintah Kabupaten Lebak pada Kamis (12/03). Dalam dialog yang berjalan selama 3 jam itu dengan pembahasan, dampak pertambangan di Kabupaten Lebak, baik dari dampak ekonomi, hukum, politik dan sosial.

Dalam kegiatan tersebut, mantan ketua umum HMI Cabang Lebak, saudara Cucu Komarudin memaparkan bahwa harus ada penguatan ideologi tentang alam. Karena bagaimana pun pelaksanaan pertambangan itu di atur dalam undang-undang,  namun tentu dalam pelaksanaan pertambangan harus sesuai dengan aturan dan mekanisme yang sesuai.

“Tapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa aturan juga produk politik yang pada ahirnya melegitimasi pelaksanaan pertambangan. Kata kuncinya cuma satu saja, jika pelaksanaan pertambangan itu sesuai dengan pelastarian alam (enviromentalisme) maka kegiatan pertambangan itu tidak akan meruksak, dan sebaliknya”, Jelas Cucu Komarudin kepada beritajuang.com pada Jum’at (13/03/2020).

Tambah, Cucu Komarudin, Maka dari itu, pemuda dan seluruh elemen masyarakat harus ikut andil dalam penguatan ideoligi enviromntalisme, salah satunya untuk mempertahankan keindahan alam”.

Dialog Interaktif Himpunan Mahasiswa Islam.
Dialog Interaktif Himpunan Mahasiswa Islam.

Ucu Juhroni selaku pemateri menjelaskan bahwa pembangunan ekstraktif adalah kegiatan pembangunan yang mengambil bahan baku dari alam secara langsung. Seperti investasi basis tambang rakus lahan, rakus air, sarat pelanggaran hak asasi manusia, serta jauh dari kata keberlanjutan lingkungan.

Masih Ucu Juhroni, “Setelah mereka menggali dan menambang, mereka tinggalkan dengan banyak kolam yang tak akan diurus lagi. Telah mengorbankan banyak jiwa di berbagai tempat”, tambah Ucu.

“Daya rusak tambang tak hanya berhenti pada penghancuran sosial dan ekologis, juga bentang politik Indonesia. Para oligarki industri ekstraktif menunggangi bentang politik Indonesia melalui momen-momen politik elektoral seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, dan pemilihan presiden”, ungkap Ucu Juhroni selaku Pemateri. (RUS)