Aktivitas konsumen di Pasar Rangkasbitung.
Aktivitas konsumen di Pasar Rangkasbitung.

LEBAK, beritajuang.com– Setelah Pemerintah Pusat menetapkan penyebaran virus corona sebagai bencana nasional. Bahan baku seperti Gula Pasir langka di pasaran Rangkasbitung, pada Minggu (15/03/2020).

Adi Firman selaku pengamat ekonomi menyatakan bahwa langkanya bahan baku gula pasir dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama stok gula pasir yang ada saat ini merupakan stok impor tahun 2019. Stok tersebut mulai menipis sementara rencana impor gula sebesar 438.000 ton yang bakal dilakukan oleh pemerintah pusat untuk menambal kebutuhan gula di bulan Ramadhan hingga Idul Fitri masih belum jelas kapan terealisasi.

Kedua, ada kemungkinan keterlambatan impor. “Langka karena ada kemungkinan ada keterlambatan impor. Keterlambatan ini bisa jadi akibat dari virus corona yang bisa saja menghambat salah satu perekonomian kita”, terang Adi Firman.

Adi Firman juga menyarankan agar masyarakat Kabupaten Lebak dapat beralih ke produksi gula Aren. Pasalnya produksi gula aren merupakan produksi dalam negeri yang mesti kita dorong.

“Bahan baku sangat melimpah, dan gula aren lebih sehat dari pada gula lainnya”, ungkap Adi Firman.

Konsumen sangat kesulitan memperoleh gula pasir di Pasar Rangkasbitung.
Konsumen sangat kesulitan memperoleh gula pasir di Pasar Rangkasbitung.

Lia, ibu rumah tangga yang selalu konsumsi gula pasir merasa dirinya kesulitan untuk memperoleh gula pasir.

“Gula pasir di pasaran sangat sulit. Jika pun ada harganya naik Rp. 25.000 satu kilo”, terang Ibu Lia.

Ucu Juhroni selaku pengamat Kebijakan Publik di Kabupaten Lebak
Ucu Juhroni selaku pengamat Kebijakan Publik di Kabupaten Lebak.

Senada dengan hal itu, Ucu Juhroni Selaku pengamat Kebijakan Publik Kabupaten Lebak menyarankan agar masyarakat dapat beralih ke gula Aren (gula merah/ gula semut).

“Harga gula pasir langka dan semakin mahal, karena itu masyarakat bisa beralih gunakan gula merah atau aren. Dari satu sisi peralihan penggunaan ke gula merah menguntungkan bagi industri rumah tangga penghasil produk tersebut”, ungkap Ucu Juhroni.

Tetapi dari sisi konsumen kenaikan harga gula pasir yang terjadi belakangan ini, semakin menyesakkan karena itu pemerintah daerah harus mengambil langkah.

“Kebijakan pemerintah daerah khususnya Kabupaten Lebak sangat penting dalam upaya menjamin masyarakat selaku konsumen agar dapat memperoleh komoditas kebutuhan bahan pokok dengan mudah. Jadi kelangkaan gula merupakan imbas kasus global Corona sehingga harga di pasar internasional yang terus naik, karena itu sulit untuk menjaga harga gula turun”, tambah Pengamat Kebijakan Publik Ucu Juhroni.

Tentang alternatif gula merah sebagai pengganti gula pasir, untuk beberapa jenis penggunaan memang dapat dilakukan diantaranya bahan baku produk pangan seperti kue dan lainnya, tetapi untuk konsumsi masih terbatas dan perlu didorong. Gula merah yang dijual di pasaran Banten dihasilkan oleh industri rumah tangga yang banyak terdapat di Kabupaten Lebak dan Bandeglang. (RUS)

SMSI