Ucu Juhroni selaku pengamat kebijakan publik Kabupaten Lebak
Ucu Juhroni selaku pengamat kebijakan publik Kabupaten Lebak

Oleh:
Ucu Juhroni
(Pengamat Kebijakan Publik Kabupaten Lebak)

Namanya Dusun Hariang, sebuah dusun kecil di kecamatan Sobang. Secara administratif, Dusun Hariang masuk wilayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Masyarakatnya ramah dan bersahabat terhadap pendatang, aturan adat istiadat juga masih dipegang erat. Alamnya sangat indah, dikelilingi perbukitan hijau dan dialiri sungai jernih. Ya, sungai yang melintasi Dusun Hariang terdapat ikan sungai endemik yang dijaga kelestariannya. Ikan-ikan itu dijaga dan tidak boleh diambil ataupun dipancing sampai waktunya tiba. Larangan inilah yang terkenal dengan nama ‘ikan leuwi larangan’. Ada pula yang menyebutnya “nu dido’akeun” (ikan didoakan).

Dan pada hari Minggu, 15 Maret 2020 adalah momen dimana secara resmi ikan ‘Leuwi larangan’ di Sungai Dusun Hariang dibuka oleh pemuka masyarakat. Hari itu, ratusan pemancing yang datang dari berbagai daerah di sekitar Lebak dan sekitarnya telah mempersiapkan Batang Joran (stik pancing) untuk memuaskan hobinya.

Pembukaan ikan leuwi larangan di Dusun Hariang ini dilakukan setelah selama hampir setahun lebih tidak dibuka larangannya. Ratusan pemancing tersebar di sepanjang sungai Dusun Hariang ada yang berdiri diatas batu, masuk di semak-semak, bahkan ada yang masuk ke dalam sungai. Teknik memancing ikan di air deras memang membutuhkan ketrampilan tersendiri.

Menurut Panitia Acara Memancing Ikan leuwi larangan di Dusun Hariang, rencananya akan berlangsung selama dua hari. Hal ini disambut antusias oleh mancing mania, mengingat sensasi memancing di sungai air deras memiliki kepuasan tersendiri. Panitia yang merupakan kelompok pemuda Dusun Hariang menetapkan uang sumbangan kepada para pemancing berkisar Rp. 25.000 dengan ketentuan dan peraturan yang telah diatur panitia. Hanya boleh memancing dengan Joran (stik pancing), dan tidak diijinkan, meracuni, ataupun menyetrum ikan untuk mendapatkan ikan larangan tersebut .

Acara mancing ikan menjadi berkah juga bagi masyarakat Hariang terutama warung-warung sekitar sungai yang menyediakan berbagai makanan dan minuman bagi para pengunjung maupun pemancing yang hadir.

Salah satu keunikan dalam memancing ikan Leuwi larangan di Dusun Hariang adalah penggunaan umpan yang tidak biasa. Para pemancing menggunakan hewan kepiting apu disebut ‘anak keuyeup’. Para pemancing bisa mendapatkannya di sungai Dusun Hariang. Selain dikaitkan pada mata kail, keuyeup ini juga ditebar di sungai oleh pemancing untuk menarik perhatian ikan. Selain keuyeup, beberapa pemancing juga menggunakan kroto sebagai umpan.

Populasi ikan terbanyak di Sungai Dusun Hariang adalah jenis ikan tawes, ikan rancak, ikan regis, lubang, caung. Ikan ini hidup di sungai-sungai beraliran deras di pegunungan . Dan ditengarai populasinya sangat terancam akibat penangkapan berlebihan.Dan ternyata ikan ini hanya bisa berkembang baik di Sungai yang kualitas airnya terjaga. Berbeda dengan ikan mas, lele yang mampu hidup di air keruh, namun ikan jenis ini hanya lebih hidup di air jernih dan lebih senang di air yang deras.

Memperhatikan populasi ikan yang terancam punah tersebut, kearifan lokal yang diterapkan di Dusun Hariang dengan aturan adat setempat juga memberlakuan zona larangan, penyangga, dan penangkapan. Penangkapan hanya dilakukan apabila terdapat izin dari tetua adat.Sistem proteksi tradisional ini berhasil melestarikan ikan asli sungai tersebut.

Menurut penjelasan tokoh pemuda di dusun Hariang Hasan Basyar populasi ikan di sungai dusun Hariang tak pernah berkurang . Walaupun pada musim hujan sungai meluap dan deras. ” Sungai ini bebas tanpa diberi penyekat, hanya perlindungan ghaib yang ada, dan dari sistem perlindungan ini populasi ikan tetap terjaga..

Tidak akan ada orang yang berani mengambil ikan di wilayah larangan ini hingga larangannya dibuka, mereka takut kena kawalat atau mamala yang tidak bisa disembuhkan.

Dalam perspektif pelestarian alam dan lingkungan, diberlakukannya ikan ‘larangan’ dapat melestarikan spesies ikan yang terancam punah. Sebuah kearifan lokal yang patut diteladani.