Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina.
Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina.

Oleh:
Faris Budiman Annas
(Akademisi dan Peneliti di Universitas Paramadina)

JAKARTA, beritajuang.com- Pandemi Covid19 yang tengah menyebar hampir ke seluruh penjuru negeri di seluruh dunia tentu berdampak pada kehidupan masyarakat. Salah satu masalah yang kini masih muncul di permukaan adalah kasus penolakan terhadap jenazah pasien Covid19.

Beberapa waktu lalu, ramai menjadi perbincangan di masyarakat bahwa sekelompok warga di Makassar dan Gowa, melakukan penolakan terhadap proses pemakaman pasien Covid19 yang meninggal dunia. Hal ini terjadi di TPU Baki Nipa-nipa dan TPU Pannara, Kelurahan Antang, Manggala Makassar.

Penolakan serupa juga terjadi di Desa Tumiyang, Banyumas, Jawa Tengah. Ambulans yang membawa jenazah pasien positif Covid19, diminta putar balik oleh warga setempat. Insiden ini membuat Bupati Banyumas, Ahmad Husein harus turun gunung untuk berdiskusi dengan warga (Putri, 2020).

Berakar dari Stigma

Beberapa ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pandemi Covid19 berpeluang menimbulkan konflik sosial di masyarakat. Salah satunya adalah penolakan warga terhadap jenazah korban. Belajar dari insiden di Desa Tumiyang, warga menolak pemakaman jenazah di wilayah mereka karena mereka merasa resah dan takut terhadap penyebaran virus dari jenazah.

Hal ini dikarenakan terbentuknya stigma di masyarakat mengenai atribut-atribut negatif yang melekat kepada jenazah pasien positif Covid19. Padahal atribut tersebut belum tentu benar adanya.

Erving Goffman  memberikan definisi dasar tentang stigma yaitu suatu atribut yang mendiskreditkan seseorang sebagai manusia yang “tidak sama seutuhnya” dengan manusia normal dan biasanya menuju ke hal yang negatif ( Varamitha dkk, 2014).

Pasien positif Covid19 yang meninggal kemudian terstigmatisasi di masyarakat bahwa mereka adalah orang-orang yang terdiskreditkan karena memiliki atribut sebagai orang yang pernah mengidap virus Covid19.

Konstruktivisme Sosial dalam Pembentukan Stigma

Lalu pertanyaannya, bagaimana stigma tersebut dapat terbentuk di masyarakat? Hal ini erat kaitannya dengan upaya masyarakat itu sendiri dalam membentuk stigma.

Pada dasarnya, suatu yang disepakati oleh masyarakat merupakan hasil dari diskusi dan pembentukan makna oleh masyarakat itu sendiri. Pemahaman masyarakat terhadap stigma bahwa pasien Covid19 yang meninggal dunia sebagai sosok yang berbahaya tidak terjadi secara serta-merta, melainkan stigma tersebut dikonstruksi oleh masyarakat.

Berger dan Luckman (1996) dalam karyanya The Social Construction of Reality, menjelaskan bahwa masyarakat secara bersama-sama mengkonstruksikan realitas melalui makna yang disepakati bersama yang dipertukarkan melalui bahasa (Galbin, 2014).

Oleh karena itu, pemahaman masyarakat sehingga membentuk stigma negatif terhadap pasien Covid19 yang meninggal adalah hasil dari diskursus dan wacana yang beredar dalam masyarakat.

Galbin (2014) menjelaskan bahwa proses konstruksi realitas tersebut melalui tiga tahapan yakni eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Eksternalisasi merupakan fase dimana orang-orang atau masyarakat mengeluarkan pendapatnya, membentuk narasi, dan menceritakan narasi tersebut kepada orang lain mengenai suatu realitas. Dalam situasi pandemi seperti ini, orang-orang bebas berpendapat, dan membentuk narasi mengenai berbagai kemungkinan terburuk yang terjadi.

Objektivasi adalah suatu fase ketika orang-orang menceritakan kembali narasi tersebut, dan dalam skala besar, narasi tersebut berubah menjadi kenyataan yang bagi masyarakat dianggap sebagai fakta-fakta aktual.

Narasi yang terbentuk membentuk pemahaman di masyarakat bahwa pasien covid19 yang telah dimakamkan masih dapat menyebarkan virus Covid19. Hal inilah yang kemudian diobjektivasi sebagai kesepakatan yang dipahami masyarakat.

Sedangkan, internalisasi adalah fase terakhir dari proses konstruksi realitas ketika orang-orang berusaha untuk memaknai secara sadar bahwa fakta-fakta aktual itu benar adanya. Hal inilah yang membuat masyarakat di sekitar lokasi pemakaman merasa resah terhadap dampak negatif setelah pemakaman.

Jika proses konstruksi realitas ini sudah sampai tahap internalisasi, maka dapat dikatakan cukup sulit untuk mengubah stigma yang terbentuk di masyarakat terhadap pasien Covid19 yang meninggal dunia.

Misalnya, pada kasus penolakan jenazah pasien Covid19 di Desa Tumiyang, Banyumas. Masyarakat disana tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk menolak pemakaman jenazah pasien positif Covid19 di desa mereka. Meskipun Bupati Banyumas, Ahmad Husein terjun langsung bernegosiasi dengan warga.

Namun berita baiknya, akhir dari drama ini kedua belah pihak, yaitu dari pemerintah kabupaten Banyumas dan warga Desa Tumiyang saling meminta maaf atas insiden yang terjadi.

Perlunya Literasi Kesehatan

Titik perkaranya ada pada pengetahuan dan kesadaran masyarakat bahwa pasien Covid19 yang meninggal sebenarnya tidak merugikan atau berbahaya jika diperlakukan sesuai dengan protokol medis.

Hal ini juga dijelaskan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan UGM, Prof. Tri Wibawa, dalam laman resmi UGM, Jumat (3/4/2020).

“Dengan menjalani semua prosedur pemakaman jenazah Covid-19, sesuai guideline dari Kemenkes, Kemenag, dan MUI, maka tidak akan menimbulkan penularan. Semestinya tidak ada penolakan “ ujar Prof. Tri Wibawa.

Pandemi Covid19 memang menimbulkan berbagai macam masalah salah satunya konflik sosial di masyarakat. Untuk mengantisipasi gejolak yang lebih luas perihal penolakan jenazah pasien Covid19, pemerintah, masyarakat dan diri kita sendiri perlu terus berupaya membangun narasi positif terhadap masalah ini. Sosialisasi dan literasi kesehatan terhadap masyarakat perlu terus digulirkan agar kita paham bahwa mengenai realitas yang sebenarnya.

SMSI