PKPH UNMA Banten kunjungi petani Porang di Pandeglang.
PKPH UNMA Banten kunjungi petani Porang di Pandeglang.

PANDEGLANG, beritajuang.com– Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) UNMA Banten Hadi Susilo, S.Si., M.Si melakukan kunjungan ke petani yang berhasil membudidayakan tanaman porang, di Wirasinga, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Porang yang memiliki nama ilmiah ‘Amorphophallus muelleri’ yang memiliki kandungan senyawa bernama Konjac glucomannan (KGM) yang diperkaya oleh sejumlah zat penting seperti karbohidrat, serat, dan zat lainnya yang bersifat antidiabetes, antioksidan, antiinflamasi hingga mampu menurunkan berat badan.

Hadi Susilo, selaku Direktur PKPH UNMA Banten menyatakan Glukomanan pada umbi Porang memiliki manfaat dalam bidang industri yaitu dapat digunakan sebagai bahan perekat kertas, bahan pengisi (filler) untuk pembuatan tablet (obat), pengikat mineral yang tersuspensi secara koloidal serta sebagai penjernih air minum.

“Struktur kimia Glukomanan mirip dengan selulosa sehingga dapat digunakan dalam pembuatan seluloid, bahan peledak, isolasi listrik, bahan negatif film, bahan toilet, kosmetik dan bahan pemadat dalam media kultur jaringan”, ungkapnya kepada beritajuang.com Selasa (28/04/2020).

Secara nilai ekonomis, tepung porang di pasaran dihargai Rp 200.000 sampai 250.000 per kilogram, setelah dimurnikan menjadi tepung glukoma harga jualnya mencapi Rp 900.000 sampai Rp 1.500.000 perkilogram. Sementara itu, pemurnian 90 persen mencapai harga Rp.3.000.000,- per kilogram.

“Melalui pengembangan umbi porang diharapkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat didaerah”, tutur Hadi Susilo.

Hadi Susilo selaku Direktur PKPH Unma Banten saat mengunjungi petani Porang di Pandeglang, (28/04/2020).
Hadi Susilo selaku Direktur PKPH Unma Banten saat mengunjungi petani Porang di Pandeglang, (28/04/2020).

Firman Rezaldi, S.Si., M.Biotek selaku Dosen Fakultas Sains, Farmasi dan Kesehatan (FSFK) UNMA Banten menyatakan bahwa potensi porang yang sangat luar biasa akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat apabila di umbi porang budidayakan dan di olah. “Apalagi bila dilakukan penelitian, pengembangan dan perekayasaan tanaman porang”, jelasnya.

Entis selaku Petani dari Desa Sukacai Wirasinga, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang mengungkapkan, umbi porang segar saat ini dihargai Rp 10.000- Rp 13.000/ Kg dan lebih mahal lagi jika sudah dalam bentuk chips (red irisan tipis) kering sebesar Rp. 55.000- Rp 65.000/Kg. Katak porang juga bernilai tinggi. Harganya mencapai Rp 170.000 per kilogram.

“Hal itu karena katak tidak banyak diproduksi dan bisa dijadikan bibit tanaman porang. Selain cukup menguntungkan, budidaya tanaman porang juga relatif mudah dan terjangkau”, katanya. (AS)

SMSI