Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten bersama-sama stakeholder menggelar dialog online.
Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten bersama-sama stakeholder menggelar dialog online.

SERANG, beritajuang.com– Di tengah pandemi Covid-19, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten bersama-sama dengan stakeholder dan masyarakat menggelar dialog online ‘Banten Damai’. Diskusi Online Bidang Agama dan Budaya FKPT Banten kali ini mengangkat tema ‘Bedah Gerakan Salafi Cegah Faham Menyimpang’ dipandu oleh moderator Endang Saeful Anwar (Akademisi UIN Banten). Kegiatan diskusi online ini diberikan pengantar langsung oleh Dr KH Amas Tadjuddin selaku Ketua FKPT Banten.

Dalam pengantarnya Amas Tadjuddin yang juga Sekretaris PWNU Banten menyatakan bahwa dalam catatan sejarah ke Islaman sejak zaman Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabiin dan Tabi’ Tabi’in hingga akhir tahun 300 Hijriah tidak ditemukan suatu madzhab yang bernama mazhab Salaf. Bahwa kata ‘salaf’ kebalikan dari kata ‘khalaf’ ada delapan kali disebutkan dalam Al Qur’an, tidak dalam keadaan membahas tentang salaf sebagai madzhab, pun demikian tidak ada hadits Nabi yang menyebutkan tentang adanya salaf sebagai suatu madzhab.

“Itu artinya, jika ada yang menyerukan supaya ikut madzhab salaf maka kita disuruh untuk mengikuti imam yang tidak ada, alias imam imajiner. Maka istilah yang benar untuk menyebut kelompok ini adalah kaum salaf bukan mazhab salaf”, ungkapnya.

“Di Indonesia, kaum salaf ini sudah ada sejak lama, tapi baru berani muncul ke permukaan sekitar tahun 1980-an dan mendapatkan jati dirinya pasca reformasi Nasional Tahun 1999. Kaum salaf ini terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu Kaum Salafi Dakwah (KSD) dan Kaum Salafi Radikal (KSR)”, tegas Sekretaris Umum MUI Kota Serang ini lebih lanjut.

Hadir sebagai narasumber utama pada kegiatan ini adalah DR KH AM Romly, M.Hum selaku Ketua Umum MUI Provinsi Banten dan KH Mohamad Ardani (Tokoh Pondok Pesantren).

Dalam paparannya, DR KH AM Romly, M.Hum lebih menyoroti tentang konsep MUI dalam beragama. Menurutnya, ada dua kelompok besar saat ini dalam mempraktekan kehidupan beragamanya. Dua kelompok ini adalah kelompok tekstualis skripturalis yang cenderung rigid dalam memahami teks-teks keagamaan sehingga pemahamannya kadang kaku dan sering kali mengkafirkan orang dan pemahaman kelompok lain yang tidak sealiran atau yang dianggap beda. Kelompok kedua yaitu kelompok liberal yang berupaya untuk melakukan kontekstualisasi ayat secara longgar dan permissif. Kedua kelompok ini tentu tidak sejalan dengan konsep keadilan dan keseimbangan yang dimiliki Islam.

Merespon hal ini, maka muncullah Islam Wasathiyah, Islam pertengahan yang tidak terlalu ketat (Ifrath) dan tidak longgar (Tafrith). Islam Wasathiyah inilah yang diserukan oleh para ulama khususnya Ulama-ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia. Setidaknya ada 10 ciri dari Islam Wasathiyah ini yaitu Tawassuth (Moderat), Tawazun (Seimbang), I’tidal (Lurus), Tasamuh (Toleran), Musawah (Egaliter), Syuro (Musyawarah), Ishlah (Reformasi) Awliyat (Skala Prioritas),Tathawur (Dinamis) dan Ibtikar (Inovatif). Jika kesepuluh dari ciri ini ada dalam sebuah pemahaman keagamaan maka itulah yang disebut dengan Islam moderat yang diserukan oleh para Salafussalih.

Sedangkan KH Mohamad Ardani, yang juga pimpinan pondok pesantren di Cisoka Tangerang mengatakan bahwa Gerakan Salafi dimulai pada abad ke 18, dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab, yang dilanjutkan oleh Nashiruddin Albani dan Abdullah bin Baz. Ciri dari gerakan ini menampilkan karakter anti madzhab, selalu membid’ahkan pada ritual ibadah yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka menurutnya, gerakan ini sesungguhnya tidak bisa memberikan warna dan kemajuan pada Islam karena perdebatan mereka hanya berkutat pada pembahasan seputar tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Af’al dan Shifat.

Pelaksanaan program kerja Bidang Agama, Sosial dan Budaya Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten ini dilaksanakan pada Hari Senin, tanggal 8 Juni 2020 Pukul 13.00 s.d 15.00 WIB melalui Aplikasi Cisco Webex Meeting.

Adapun peserta yang hadir meliputi pengurus FKPT Banten, Ormas-ormas keagamaan seperti Ketua MUI, Sekum MUI Kabupaten/Kota Se Provinsi Banten, PW PRIMA DMI Provinsi Banten, KPU, Bawaslu, Akademisi UIN Banten, UNSERA, Ketua Forum Majlis Ta’lim Banten, Sekban Kesbangpol Banten, unsur Kemenag, Aktivis Pesantren, Aktivis Mahasiswa Assalamiyah, dan Ketua Forum Tafsir Hadits.

Setelah pemaparan materi dari kedua narasumber, moderator membuka sessi tanggapan dan pertanyaan. Ada 3 penanya pada kesempatan dialog online yaitu kang Efi Afifi dari PRIMA DMI Banten, Sehabuddin (tokoh pemerhati sosial dari Rangkasbitung) dan KH. Ahmad Fathoni dari MUI Kecamatan Walantaka.

Pertanyaan seputar tentang kiat dakwah terhadap kaum millennial yang ghirah keagamaannya tinggi tapi tidak punya akses pada pemahaman keagamaan wasathiyah secara komprehensif, dan cara menghadapi kelompok kelompok yang suka melakukan justifikasi terhadap pemahaman keberagamaannya atau suka mencap bid’ah terhadap pemikiran keagamaan orang lain serta perbedaan antara salafusshalih dan salaf Wahabi.

Selanjutnya acara ditutup dengan closing statement dari Ketua FKPT Banten bahwa belakangan muncul istilah salaf atau gerakan salaf yang mengklaim dan menyerukan tatanan idiologi khilafah sebagai sistem untuk mengganti Pancasila yang bidah dolalah karena tidak ada pada zaman nabi, hal ini disebut oleh Amas Tadjuddin sebagai faham menyimpang dan sangat berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Istilah salafi juga digunakan untuk menyebut status Pondok Pesantren yang didalamnya hanya mempelajari sumber ajaran Islam berbasis kitab kuning, untuk membedakan dengan Pondok Pesantren Modern yang didalamnya sudah ada pelajaran berbasis keterampilan seperti ternak lele, ternak udang, dan ada pelajaran bahasa Inggris.

Sehingga menurut Amas Tadjuddin sering kali ponpes salafi bisa dan mampu mencetak imam shalat jenazah dan Khatib Jumat berbahasa Arab, sedangkan ponpes modern mampu melahirkan khatib Jumat berbahasa indonesia dan inggris yang juga fasih memukul drum band atau fasih meniup terompet marching band.

Penggunaan istilah salaf atau modern bagi sebuah ponpes tidak mendasarkan kepada adanya sebuah madzhab salafi. (NR_OPIK)

SMSI