Ace Sumirsa Ali
Ace Sumirsa Ali

Oleh:
Ace Sumirsa Ali

Jalannya mulus, udaranya sejuk. Kelokan dan tanjakan mewarnai perjalanan siapapun menuju Desa Cimanyangrai, Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Situasi ini bagi biker tentu sangat menarik untuk dilintasi, apalagi jalanan masih tampak lengang, tak sepadat Kota Rangkasbitung. Jangan bandingkan dengan kepadatan Jakarta dan kota besar lainnya, karena itu sangat tak sebanding sama sekali.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman indah saat perjalanan pagi kemarin di hari Sabtu 4 Juli 2020 lalu. Selama perjalanan tak banyak yang saya perhatikan karena “teramat” sering saya melintasi ruas jalan tersebut. Namun, saya terperanjat ketika roda mobil menginjak Pegunungan Kendeng di Desa Cimanyangrai, Kecamatan Gunung Kencana. Sebab di lokasi Perhutani tersebut kini terhampar tanaman jagung yang sangat luas. Sejauh mata memandang. Penasaran, lalu kendaraan kami pun menepi.

Karena takjub pada pandangan pertama, kami serombongan turun dari kendaraan dan menapaki kebun jagung yang mulai berbunga. Beberapa meter dari jalan raya, tampak sebuah gubug sederhana, tempat sang petani beristirahat setelah penat bekerja. Kami pun segera merebahkan badan di gubug bambu tersebut. Bukan disebabkan kami lelah, tetapi lebih karena kami ingin menikmati semilirnya angina gunung sambil rebahan di gubug tersebut. Sungguh indah sekali, nafas kami begitu segar, jauh lebih segar dari udara air conditioner di mobil yang kami tumpangi.

Rupanya petani jagung setempat tahu, gubugnya sering dijadikan persinggahan tamu yang melintas. Karenanya, mereka membuat saung lain yang lebih “representative” bagi wisatawan dadakan. Sebab tak jauh dari lokasi gubug tersebut, ada gubug lain di lahan tanah yang lebih tinggi. Sudah mah dibangun di lahan paling tinggi, gubug ini dibangun lebih tinggi dari pada bangunan saung pada umumnya.

Menikmati indahnya hamparan jagung di saung ranggon.
Menikmati indahnya hamparan jagung di saung ranggon.

Kami pun penasaran, lalu bangkit dari rebahan dan langsung menuju saung kedua di bukit lahan jagung tersebut. Sungguh luar biasa, dari atas gubug yang hanya cukup untuk tiga orang tersebut, pemandangan luar biasa indah. Hamparan kebun jagung tampak terlihat memesona, luasnya diperkirakan lebih dari 100 hektar. Di sebelah selatan, tampak pesawahan yang menghijau. Sebelah utara ada tanaman pohon karet yang sedang matang dipanen. Sebelah barat tampak jalan raya Gunung Kencana yang mulus berkelok-kelok mirip ular yang tengah bergerak berjalan. Sungguh indah luar biasa.

Sementara hamparan jagung memanjang ke sebelah timur hingga diujung penglihatan. Dari ujung mata tampak pegunungan kendeng terhampar menunjukan pesonanya. Sungguh ambyar hati kami, remuk redam oleh indanya ciptaan Tuhan.

Sayang, di kaki gubug tempat kami memuji, tampak sampah plastic bekas minuman para pengunjung yang dibuang sembarangan. Rupanya, kami bukanlah tamu pertama di lokasi wisata gratis tersebut. Sudah banyak diantara mereka yang singgah, namun saying menunda sampah. Semoga, lain waktu sampah itu tak ada lagi.

SMSI