Hj. Emul Mulyanah,S.E., (Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Lebak )
Hj. Emul Mulyanah,S.E., ( Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Lebak)

LEBAK, beritajuang.com– Hj Emuy Mulyanah, S.E., dalam kesempatan terbatasnya di ruang Fraksi PDIP DPRD Lebak menyampaikan konsep “kebiasaan baru” perlu dukungan dan kerjasama semua pihak dalam pemulihan ekonomi, senin (27/07/2020).

Menurutnya, Untuk menopang situasi perekonomian dalam Negeri dan mengurangi dampak pandemi COVID-19, pemerintah mempersiapkan program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Program PEN menyasar kegiatan perekonomian mulai UMKM, perusahaan BUMN, hingga perbankan. Selain itu, Program Bantuan langsung tunai dari pemerintah diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat yang tertekan akibat Pandemik COVID-19 ini

“Kita pada akhirnya harus menyesuaikan dengan kondisi yang serba distancing ini, tapi bukan berarti menyerah melainkan perlu adanya penyesuaian. Kecermatan dan kematangan Pemerintah Pusat dalam mengeluarkan Regulasi (Makro Ekonomi) sangat menentukan sekali, seperti stimulus fiskal yang disertai dengan realokasi anggaran untuk kesehatan, perlindungan sosial dan pemulihan ekonomi nasional dari sektor keuangan, diharapkan akan dapat meningkatkan perekonomian secara perlahan di kuartal ketiga” Ungkap Hj. Emuy Mulyanah yang juga sebagai Ketua Fraksi PDIP Lebak.

Stimulus fiskal ini diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 sebesar 3,24 persen. Stimulus fiskal juga telah diikuti dengan stimulus moneter yang diberikan oleh Bank Indonesia dengan menurunkan tingkat bunga acuan dan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM).

Penurunan tingkat bunga acuan ini diharapkan akan diikuti dengan penurunan tingkat bunga pasar sehingga dapat mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi. Pandemi Covid-19 ini juga telah memberikan nuansa baru pada rantai pasokan dunia (Global Supply Chain).

Ditambahkan Hj Emuy Mulyanah, bahwa “Stabilitas ekonomi makro merupakan faktor fundamental untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Sustainable Economic Growth). Upaya untuk menjaga stabilitas ekonomi makro tersebut dilakukan melalui langkah-langkah untuk memperkuat daya tahan perekonomian domestik terhadap berbagai gejolak yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Upaya tersebut juga disertai dengan program kegiatan pembangunan yang dalam pelaksanaannya diharuskan menyertakan langkah-langkah untuk mengendalikan laju inflasi, stabilitas nilai tukar, serta tingkat bunga yang rendah. Upaya tersebut menghadapi tantangan yang berat, seperti halnya ditengah Pandemik COVID-19 ini,” jelas politisi wanita PDI Perjuangan Lebak tersebut.

Kondisi perekonomian Indonesia masih memiliki peluang optimis untuk bangkit. Kekosongan aktivitas selama hampir 3 bulan sejak pertengahan Maret masih memberikan peluang bagi perusahaan untuk bangkit kembali, tentunya apabila seluruh stakeholder mampu bekerjasama dan merespon stimulus yang diberikan oleh Pemerintah.

Pemerintah pusat mengeluarkan anggaran stimulus sebesar Rp 405 triliun untuk penanganan Covid-19. di antaranya dialokasikan untuk program jaring pengaman sosial, bantuan yang diberikan secara tunai adalah dana kesehatan dan jaring pengaman sosial. sekitar Rp 110 triliun yang digelontorkan Pemerintah untuk perluasan untuk PKH dan perluasan untuk program sembako.

Ragam Bansos Pemerintah RI diantaranya Program Bansos Khusus, PKH, Kartu Prakerja, Kartu Sembako, Kartu indonesia Pintar, Subsidi Listrik, dan Program Padat Karya Tunai.

Lanjut Hj. Emuy Mulyanah, “Dalam Mikro Ekonomi, sederhananya itu menganalisis mekanisme pasar sebagai pembentuk harga barang dan jasa yang diperjualbelikan. Contoh ekonomi mikro dalam masyarakat yakni permintaan dan penawaran, kemudian perilaku konsumen dan produsen, serta harga barang/jasa. Nah, COVID-19 ini kan sudah menekan kesemua faktor tersebut utamanya soal daya beli masyarakat (pembentuk tingkat harga), produksi, dan distribusi. Jika Kebijakan Pemerintah dalam skala Makro dan Mikro Ekonomi ini mampu berjalan dengan baik, maka Perekonomian Indonesia akan berangsur pulih bahkan bisa lebih cepat dari perkiraan,” jelasnya.

“Intinya, Segala daya upaya perlu dikerahkan secara bersinergi dari seluruh stakeholder agar Indonesia dapat bangkit dari kondisi yang disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19 saat ini. Namun yang tak kalah penting yakni soal ketaatan Penerapan Protokol Kesehatan, karena fokus pemulihan ekonomi tanpa menjaga tingkat kesehatan di tengah Pandemik COVID-19, ialah pekerjaan yang sia-sia,” tutup Hj. Emuy Mulyanah. (RUL)

SMSI