Dede Rafiudin Albadar Mahasiswa UIN SMH Banten
Dede Rafiudin Albadar Mahasiswa UIN SMH Banten

LEBAK, beritajuang.com – Berjalannya usia aku pun tumbuh sebagai pemuda, banyak tokoh terkemuka dalam buku-bukunya yang mengatakan bahwa pemuda adalah asset yang dimiliki oleh bangsa dan agama. Banyak tokoh muda yang sudah membuktikan keberhasilanya dalam menentukan peradaban kehidupan manusia sebelumnya. Sebagai pemuda desa banyak harapan yang ingin dicapai untuk bisa mengajak kawan-kawan di desa terus berkarya tanpa ada tapal batas. Oleh karena itu, Desa adalah sumber dasar kekuatan yang dimiliki oleh sebuah bangsa baik dari sumber daya manusia maupun dengan alamnya. Tentunya hal seperti ini sudah tidak diraguakan kembali.

Kita ketahui bersama bahwa dalam babak kehidupan sekarang dihadapkan pada salah satu keuntungan besar yaitu bonus demografi, di dalam babak ini adalah banyaknya populasi usia produktif yaitu pemuda dan pemudi, tentunya jika kita fokuskan pembangunan untuk me-upgrade, generasi untuk penopang peraadaban dengan baik tentunya akan melahirkan satu kesatuan tatanan sosial yang lebih berprestasi. Namun dilihat dari kebijakan pihak pemerintah di daerah-daerah pelosok atau desa, dikira kurang perhatian khusus atau pun mempunyai konsepan khusus untuk pemberdayaannya, entah ini terjadi hanya di lingkungan ku saja atau tidak, yang jelas ini adalah jeritan pemuda desa.

Bermula pada kekecewaan dengan kondisi sikut-sikutan sehingga tak bisa bersama dalam lingkaran yang mengikat kata persatuan, memang kemajemukan berpikir menjadi sebuah logo sentrisme perkembangan yang akan membawa perubahan yang lebih rekonstruktif dalam bangunan mental dan benda materil.

Entah apa yang diinginkan, hal itu selalu menjadi tanda TANYA BESAR? Andai saja masing-masing individu dari kita dapat menyampaikan apa yang dimaksudnya, seperti syahwat untuk berkuasa (Nietzsche). Karena baginya ketika saat berkuasa maka kebenaran akan mudah disampaikan dan diperoleh, mau bagaimanapun kebenaran akan ditentukan oleh yang berkuasa.

Penyampaian visi dalam berjuang kiranya diperlukan untuk mendestruksi egosentris yang lebih condong kepada nilai individualistik, dengan secangkir kopi dan lingkaran penuh dengan asap sigaret di bumbui dengan penuh semangat membara dan senyum keikhlasan dalam komitmen berjuang, tentunya hal ini sangat diperlukan, kemudian kita bisa mengukuhkan semangat perjuangan tanpa ada kata mundur, karena mundur adalah sebuah penghianatan. Tentunya hal ini perlu ada harmonisasi dari semua unsur elemen masyarakat demi terciptanya masyarakat adlim makmur.

Persoalan pendidikan dan pengangguran bukan lagi menjadi problems yang kompleks, jika kita semua mempunyai tekat yang kuat untuk terus berkarya, mengembangkan potensi dasar sebagai manusia, tidak lagi memandang belajar terikat oleh ruang dan waktu. Belajar yang mengutamakan potensi diri seperti yang di ujarkan oleh kemendikbud bahwa di era sekarang nilai tidak berpengaruh dibandingkan dengan soft skill, pengangguran akan bisa ditopang dengan ekonomi kreatif oleh para pemuda, jika pemuda bisa mendapatkan haknya terfasilitasi dalam berkarya. Pihak pemerintah daerah harus mempunyai konsepan dan gagasan untuk bisa memberikan ruang dan pengembangan bagi putra putri daerahnya.

Penulis: Dede Rafiudin Albadar
Mahasiswa UIN SMH Banten

SMSI