Tradisi ngadodol di Desa Sukajaya, Kecamatan Sobang pada Selasa (20/10/2020).
Tradisi ngadodol di Desa Sukajaya, Kecamatan Sobang pada Selasa (20/10/2020).

LEBAK, beritajuang.com– Tradisi ngadodol adalah bagian dari warisan leuluhur Nenek moyang Kaseupuhan Adat Masyarakat Kecamatan Sobang – Banten Kidul, Tradisi ini juga sudah ada dan berlangsung ribuan tahun lamanya. tepat nya dikampung Cileubang, Desa Sukajaya, Lebak – Banten.

Dikatakan Junaedi Ibnu Jarta Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Lebak bahwa Moment Ngadodol itu dilakukan menyambut Sedekah Bumi, Ngajiwa, Mapag Pare Bekah, Ngubaran Pare, Neutepken Pare ( Nganyaran), Pada Selasa (20/10/2020).

“Kami pemerintah Desa Sukajaya sangat apresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan budaya, tradisi warisan para leuluhur kasepuhan adat dan para tokoh agama. Juga akan selalu kami jaga dan melestarikan nya,” ujar Sutisna yang akrab disapa Jaro (Deriel) Kepala desa Sukajaya Kecamatan Sobang.

Selain itu juga kegiatan apapun tentang keadatan atau tradisi budaya ngadodol yang ada di lingkungan Desa Sukajaya akan selalu kami dukung. “Karena ngadodol ini warisan dari nenek moyang yang sudah ada sejak ribuan tahun lamanya dan jelas banyak manfaatnya. Terutama dalam menjaga kerukunan, kebersamaan, kekeluargaan serta gotong royong diwewengkon kampung cileubang,” katanya.

‘Kegitan ini tiada lain untuk merawat serta menjaga kearifan lokal. Demi terwujudnya kemakmuran khususnya dibidang pertanian sebagai ketahanan pangan sesuai dengan mayoritas masyarakat disini keseharian nya Bertani,” jelasnya.

Senada diungkapkan Junaedi Ibnu Jarta Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Lebak saat ditemui langsung diruang kerjanya kemarin, bahwa ngadodol juga sering kali dilaksanakan secara rutin pada kegiatan sakral, berikut lima point penjelasan ringkas nya

  1. Sedekah bumi.
  2. Ngajiwa.
  3. Mapag Pare Bekah.
  4. Ngubaran Pare.
  5. Neutepken Pare (nganyaran).
Masyarakat sedang melakukan tradisi ngadodol di Desa Sukajaya, Kecamatan Sobang pada Selasa (20/10/2020).
Masyarakat sedang melakukan tradisi ngadodol di Desa Sukajaya, Kecamatan Sobang pada Selasa (20/10/2020).

1. Pengertian Sedekah Bumi sebagai bentuk indikator bahwa masyarakat itu masih lestari diberapa kasepuhan yang ada dikabupaten lebak – banten ada istilah syukuran tahunan paska sukses bertani,dan juga dengan beberapa nama istilah lainnya yang berbicara seren tahun,ngembang atau sedekah bumi. berbicara tentang sedekah bumi adalah wujud dan refleksi aktivitas masyarakat yang yang isinya adalah bentuk syukuran kepada Tuhan nya dalam hal ini kepada Allah ta’ala atas suksesnya bertani yang selama dari mulai tanam sampai panen, itu rasa syukur kepada Tuhannya Allah subhanahu wa ta’ala.

2. Pengertian ringkas tentang (Ngajiwa) adalah, bahwa di dalam tubuh manusia itu ada yang harus dibersihkan selain jasad yaitu jiwa juga harus dibersihkan melalui apa namanya keridhaan, keikhlasan untuk bersodakoh kepada masyarakat sekitar dengan nilai sejumlah uang yang sudah disepkati bersama dan dikolektif oleh kepala adat.

“Iya, dengan menyampaikan doa-doa sebagai bentuk refleksi selain jasad adalah jiwa dan itu diperhadapkan atau didoakan melalui ritual doa-doa yang dikirim kepada Tuhan (Allah SWT). dalam kehidupan kita harus dibersihkan melalui doa-doa, mulai dari pembacaan silsilah, pembacaan surat Yasin hingga di akhiri doa selamat, dan doa sapu jagat.

3. Mapag Pare Bekah artinya menyambut padi hamil, hal itu juga tidak terlepas dari ritul ritual tradisi masyarakat adat dalam menyambut pertumbuhan padi yang mulai menunjuk kan pertumbuhan nya yang produktif. kalua dalam istilah bahasa sundanya (Pare Bekah/Reuneh). tentu ada ritual nya agar melalui doa doa bersama,hasil padi nya bagus sesuai yang diharapkan.

Padi sudah hamil (Pare ges Reuneh) ialah melalui tahapan dimana dari padi mulai ditanam, kemudian padi hidup normal sesuai yang diharapkan, dibuktikan dengan pra keluar bunga. “Setelah reuneh keluar bunga dan pada masa keluar bunga tersebut adalah masa teransisi ada istilah spiritul dan faktual, yang dalam kata lain menurut leuluhur adat adalah (Nyi Sri dan Nyi Pohaci) agar padi nya itu bagus, dan secara faktual nya juga padi ini rentan terserang penyakit,” katanya.

Selain itu berbicara soal penyakit padi disini bisa di damaikan secara spiritual, dalam konsep adat ada istilah (mapag pare bekah) artinya menyambut bakal buah padi yang baru keluar bunga yang akan menjadi buah, adapun langkah lain yang lumrah dilakukan petani dalam mengusir penyakit padi, dapat juga diselesaikan dengan cara menggunakan obat obatan padi kekinian yang biasa kita dapat membelinya ditempat resmi dijual dipasaran,” tuturnya.

4. Pengertian Ngubaran Pare tidak jauh berbeda dengan mapag pare bekah karena padi ini secara masyarakat adat disebut sakral, dan ada yang mengendalikan secara spiritual dan itu menjadi satu keyakinan oleh karena nya ngubaran pare dilakukan setelah mapag pare bekah sebagai bentuk upaya masyarakat agar padi itu tumbuh subur dan hasil buahnya bagus atau dalam istilah sunda nya (Beuner). Tidak sampai ditu peran petani untuk mendapatkan hasil padi yang bagus, biasanya hama-hama yang terlihat secara kasat mata seperti burung, tikus dan hama yang lain nya. Hal itu obat tradisional secara spiritual versi masyarakat adat yang di sebut ngubaran pare dipadukan dengan versi obat yang di anjurkan pemerintah dalam hal ini insektisida buatan.

5. Neutepken Pare (Nganyaran) terjadi setelah padi dipanen dari berbagai rangkain ditulis di atas menjadi finalisasi dari sukses atau tidaknya kita bertani sesuai dengan target yang di inginkan.pasalnya setelah panen terjadi ada istilah (Nganyaran atau Neutepken atau Ngadiukeun). Dari mulai padi ditanam dan dilakukan berbagai macam tindakan perlakuan finalisasinya, atau finishingnya adalah (Panen) nya bagus. Intisarinya adalah segala bentuk, memulai atau mengakhiri kegiatan hingga menikmati hasil bertani tidak lepas dari pada ritual atau doa doa yang disampaikan sebagai wujud syukur kepada tuhan yang maha esa (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) pada istilah sunda sesudah panen (Pare Anyar Kejo Anyar). (Red)

SMSI