LEBAK, beritajuang.com – Lebakparahiang adalah nama desa di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Ini adalah desa dimana Pemerintah Kecamatan Leuwidamar berkantor saat ini.

Di Desa Lebakparahiang ada Kampung Lebakgedong yang pada tahun 1843 pernah ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten Lebak. Bisa dibayangkan, betapa strategisnya Desa Lebakparahiyang sebelum Indonesia merdeka tersebut waktu itu. Bahkan sejumlah ahli sejarah menyebutkan bahwa istilah kata lebak dalam nama Kabupaten Lebak berasal dari desa ini.

Maklum, Kabupaten Lebak terbentuk 15 tahun sebelum Lebakparahiyang ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten Lebak.
Dengan demikian, kata Lebak dalam Kabupaten Lebak merujuk pada kampung Lebak (saat ini Lebakgedong) di Desa Lebakparahiyang, Kecamatan Leuwidamar.

Sayang, sejarah strategis tentang Lebakparahiyang dan Leuwidamar secara umum luput setelah Ibukota Kabupaten Lebak pindah ke Warunggunung, dan kini menetap di Rangkasbitung.

Bagaimana kini, kondisi Lebakparahiyang di tahun 2020? Jurnalis kami mencoba menelusurinya meski hanya sepintas. Kondisi sampai saat ini keadaan di wilayah kantor Kecamatan Leuwidamar tak ubah seperti kondisi tahun 70-an, malah jika dibandingkan dengan kemajuan jaman maka bisa disebut sangat menghawatirkan. Mengapa? fasilitas jalan menuju kantor kecamatan tampak rusak, dan area kantor juga tak terawat.

Bukan hanya itu , Pasar Leuwidamar yang dulu sangat dibanggakan sebagai pusat perdagangan Ibukota Lebak, kini bangkrut. Hanya ada satu warung yang tampak masih buka diantara reruntuhan bangunan pasar yang sudah lapuk. Sementara aktivitas pasar hanya akan ramai di Hari Selasa dan Jumat, dimana para pedagang dadakan mangkal diatas tenda-tenda darurat.

“Bangunan pasar ini baiknya direhab, dibenahi agar berfungsi secara baik. Jangan seperti sekarang, tak ubah seperti kuburan,” ujar Dede Sudiarto, putera Leuwidamar yang kini menjabat Sekretaris Perkumpulan Urang Banten (PUB) Kabupaten Lebak.

Sebenarnya, wilayah Leuwidamar sendiri hingga saat ini masih menjadi magnet wisatawan asing, baik dalam maupun luar negeri. Pasalnya di sini masih hidup dan bermukim masyarakat terasing, yakni warga Baduy. Mereka masih konsisten menjaga tradisi adat primitive, bertani dan berhuma yang dinilai unik oleh masyarakat modern. Dengan magnet wisata itu, tentunya Pasar Leuwidamar dan sekitarnya bisa menjadi market bebas bagi perdagangan hasil bumi setempat, mulai dari duren lokal, pete, kopi, lada hingga sayuran lainnya. Maklum, Leuwidamar termasuk daerah pegunungan yang suhu udaranya dingin sangat cocok untuk tanaman palawija dan sayuran.

“Saya berharap hal ini tidak bisa dibiarkan, Dinas Perdagangan dan semua stakeholder sebagai pemangku kebijakan bisa bertindak. Pasar Leuwidamar sebaiknya segera dibenahi, jangan dibiarkan ambruk dan bisa mengakibatkan kecelakaan jiwa. Tidak elok kiranya mantan ibukota dibiarkan mati begitu,” ujarnya mengaku miris. (ASA)

SMSI