Webinar Spektakuler yang diadakan oleh Kovid Psikologi, pada Minggu (15/11/2020).
Webinar Spektakuler yang diadakan oleh Kovid Psikologi, pada Minggu (15/11/2020).

PEKANBARU, beritajuang.com– Komunitas Virtual dengan Psikologi (Kovid Psikologi) kembali menaja webinar yang mengkolaborasikan keilmuan psikologi dengan bidang keilmuan lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 15 November 2020. Tema yang di angkatkan adalah Reformasi Kebijakan Untuk Pekerjaan Yang Bermartabat dan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif.

Menurut Cahaya Makbul selaku Koordinator Kovid Psikologi, webinar kali ini adalah webinar spektakuler karena menghadirkan lima narasumber sekaligus masing-masing adalah dari Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, Tanoto Founfation dan dari pakar psikologi UNJ, Herdyan Maulana, Ph.D.

“Kegiatan yang dilaksanakan via zoom dan live streaming youtube tersebut diikuti oleh 625 pendaftar yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dari data yang disampaikan panitia, rata-rata peserta webinar berlatar belakang akademisi dan praktisi,” ucapnya.

Dalam sambutannya, Prof. Khairunnas Rajab selaku Pounder Kovid Psikologi menyatakan bahwa ini adalah webinar yang ke19 kalinya ditaja oleh Kovid Psikologi. Sejak berdiri bulan Maret 2020, Kovid Psikologi memang sudah berkomitmen memberikan edukasi dan informasi secara gratis kepada masyarakat terutama di masa pandemi ini, tambahnya.

“Webinar ini juga dalam rangka mendukung kegiatan Bappenas untuk program pembangunan yang berkelanjutan (SDGs) dan untuk bangkit dari dampak covid 19,” katanya.

Webinar yang dimulai pukul 14.00 tersebut dimoderatori oleh Sisi Aspasia dari jurnalis TV CNN Indonesia.

Direktur Industri Kreatif film, Televisi dan Animasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Syaifullah, SE, M.EC,Ph.D menyampaikan dalam paparan materinya bahwa Bapak presiden sudah berpesan supaya sektor kreatif harus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Syaifullah juga menjelaskan kekuatan ekonomi kreatif terletak pada inklusivitasnya. Ekonomi tidak mengenal batas, tidak dibatasi oleh jenis kelamin, usia, modal bahkan pendidikan.

“Ekonomi kreatif semata-mata terletak pada kreativitas pikiran manusia dan kemampuannya untuk menciptakan ide-ide baru,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Bagian Perencenaan, Evaluasi dan Pelaporan Kementerian Ketenagakerjaan, Arif Winasis, SE,M.Si menyebutkan dengan adanya pandemic covid-19 maka ada perubahan signifikan pada kondisi tenaga kerja. Adanya tantangan revolusi industeri 4.0, bisa saja ada beberapa jenis pekerjaan konvensional yang akan hilang dan diganti dengan jenis pekerjaan baru sesuai tuntutan zaman.

Terkait reformasi kebijakan untuk pekerjaan yang bermartabat Arif menganjurkan untuk memanfaatkan bonus demografi dengan meningkatkan kompetensi, daya saing, produktivitas kerja serta meningkatkan investasi 6,6%-7,0% untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 5,7%-6,0% sehingga Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah.

Disisi lain, Dr. Sandiaga Salahudin Uno,B.B,M.BA sebagai salah satu narasumber dalam webinar ini mengatakan bahwa psikologi merupakan sebuah disiplin ilmu yang bisa dipakai ilmunya dalam semua sektor termasuk dalam perekonomian.

Selaku pengusaha dan penggerak filantropi, Sandi sangat setuju jika lembaga filantropi harus ikut berperan dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan membuka lapangan kerja, tidak hanya sekedar bagi-bagi.

Masih terkait dengan filantropi, Nia Firticia yang mewakili Tanoto Foundation sebagai selaku salah satu lembaga filantropi juga menjelaskan tentang kiprah Tanoto Foundation dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Menurut Nia, Tanoto Foundation mempercayai bahwa pendidikan yang berkualitas dapat mempercepat kesetaraan peluang.

“Program unggulan Tanoto Foundation untuk mewujudkan itu semua adalah program SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi), program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran) dan program TELADAN (Tranformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan),” tuturnya.

DR. Herdyan Maulana, Ph.D selaku satu-satunya narasumber yang berlatar belakang psikologi mencoba mengkaji semua hal yang sudah disampaikan oleh narasumber lain dengan persfektif psikologi.

Herdyan mejelaskan tentang konsep kebahagiaan dan kaitannya dengan kondisi perekonomian.

Menurut Herdyan, di Negara-negara berkembang seperti Indonesia, kondisi sosial ekonomi masih menjadi indikator penting dalam menentukan kebahagiaan dan kepuasan hidup.

Herdyan juga menyarankan pada pemerintah Indonesia untuk menjadikan kebahagiaan perspektif psikologi sebagai pertimbangan dan indikator kebijakan publik.

Diakhir diskusi, semua narasumber menyantumkan akun media sosialnya agar semua peserta bisa mengikuti berbagai program menarik terkait dengan pelatihan pengembangan skill yang dilakukan oleh lembaga-lembaga negara, swasta maupun pribadi.

Webinar ditutup dengan pengumuman pemenang giveaway oleh panitia. Lima orang peserta webinar yang beruntung itu adalah Kamaru Iskandar dari Aceh, Dwi Adi Sartono dari Kuantan Singingi, Tri Lasih Wulandari dari Pekanbaru, Ahmad Ramadhan dari Indra Giri Hulu, Rizki Ariani dari Tanjung Pinang dan Agus Gunawan dari Cimahi.

Webinar Kovid Psikogi kali ini memang sangat menarik dan bermanfaat , apalagi dengan adanya giveaway dari Sandiaga Uno dan Tanoto Foundation, kata Amri Darwis salah satu peserta setia webinar Kovid Psikologi. (MIR/CM).

SMSI