Prof Drh Agus Setiyono, M.S, PhD, APVet
Prof Drh Agus Setiyono, M.S, PhD, APVet

Oleh:

Prof Drh Agus Setiyono, M.S, PhD, APVet

(Ahli Patalogi Fakultas Kedokteran Hewan IPB University)

Coronavirus atau Virus Corona muncul di Wuhan, China pada awal tahun 2020. Virus jenis baru ini telah menewaskan 80 orang dan telah menyebar ke berbagai negara. Spekulasi maupun dugaan bermunculan mengenai penyebab asal virus tersebut. Salah satunya berasal dari sup kelelawar, sebuah makanan popular di Wuhan.

Prof Drh Agus Setiyono, M.S, PhD, APVet, ahli patalogi Fakultas Kedokteran Hewan IPB University telah mendalami riset tentang kelalawar buah hasil kerja sama dengan Research Center for Zoonosis Control (RCZC), Hokkaido University, Jepang. Dalam penelitian tersebut ditemukan enam jenis virus baru pada kelelawar buah dengan daerah sampel yaitu Bukittinggi, Bogor, Panjalu (Ciamis), Gorontalo, Manado, dan Soppeng (Sulawesi Selatan). Virus tersebut adalah coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus, dan gammaherpesvirus.

Menurutnya, mengkonsumsi kelelawar buah dapat berisiko terpapar virus corona bila preparasi kelelawar menjadi bahan makanan dilakukan secara kurang tepat. Virus corona dapat berada di dalam tubuh kelelawar tanpa menimbulkan persoalan medis bagi kelelawar dan virus ini tidak secara khusus hidup di dalam kelelawar buah  ”Hewan lain juga memiliki kemungkinan menjadi induk semang virus ini,”  ungkapnya .

Letak geografis kelelawar buah tidak menjadi penentu penyebaran virus karena virus ini secara umum terdapat pada kelelawar buah dimanapun berada. Jadi bukan hanya di Wuhan. Oleh karena itu ada peluang wilayah Indonesia terinveksi oleh virus corona karena kelelawar terbang sangat jauh dan dapat berpindah tempat tinggal (habitat) mengikuti musim buah sebagai makanan pokoknya.

Kelelawar memiliki sistem imun yang unik. Ada berbagai virus yang berdiam dalam tubuhnya dan bukan hanya virus corona saja tapi banyak lagi patogen yang berpotensi zoonosis (penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya). Hal ini tidak ‘dihalau’ sebagai barang asing oleh kelelawar”, terang Prof Agus Setiyono M.S, PhD, APVet.

Prof Agus memberikan saran untuk dapat melakukan pencegahan terhadap virus corona. Yakni tidak bersentuhan dengan kelelawar baik langsung maupun tidak langsung. Kedua, tidak memakan buah sisa masak pohon yang di gerogoti kelelawar, meskipun biasanya ini yang paling manis. Ketiga, sebaiknya bagi sebagian masyarakat dengan  budaya mengonsumsi sayur atau lauk dari kelelawar mulai mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan mengkonsumsi kelelawar. “Masih banyak pangan fungsional yang baik dan menyehatkan’’. (Red)

SMSI