LEBAK, beritajuang.com – “Sudah jadi uang ini,” ujar abah Sura , sembari menyodorkan gula aren dengan kedua tangannya. Pria bernama lengkap Sura ini adalah seorang penggiat gula aren. Kakek 58 tahun ini ‘menghabiskan’ hampir seluruh hidupnya di kebun dan tungku pembakaran, dengan wajan besar dan ni yang harus selalu diaduk.

Di sebuah gubuk di tengah Perkebunan di Kamppung Lebak Tugu, Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak – Banten, (19/02/2021).

Aren sendiri merupakan salah satu pohon dari suku Arecaceae dan termasuk dalam tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae).
Aren begitu populer akhir-akhir ini. Melejitnya Aren masuk dalam jajaran komoditas perkebunan dengan label idola di Kabupatrn Lebak. Aren diburu karena dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga ujung daun diantaranya menghasilkan sagu, ijuk, tangkai tandan, buah, daun, pelepah, akar, dan kulit batang.

Baca Juga : Di Pasar Rangkasbitung Stok Gula Pasir Langka, Pengamat Minta Agar Beralih Ke Gula Aren

Produksi Aren lainnya juga dapat dimanfaatkan misalnya buah Aren muda untuk pembuatan kolang kaling, air nira untuk bahan pembuatan gula merah/cuka dan pati/tepung dalam batang untuk pembuatan berbagai macam makanan.

Oleh karena itu Sura berjibaku dengan profesi yang sudah dijalaninya sudah puluhan tahun. Mulai pukul 05.00 WIB, Sura mulai berjalan kaki dari rumah, menuju kebunnya yang berjarak tiga kilometer. Rutinitas setiap hari, tanpa pernah terlewatkan.

Hasil gula dari kerja Sura setiap harinya mencapai 45 sampai 50 hulu/biji, dan untuk Lodong sendiri bisa menghasilkan 10 sampai 11 Lodong.
Rutinitas yang di lakukan sura sudah biasa, tanpa kenal lelah dan tanpa mengeluh, igu semua di lakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya.

Ketika tim media beritajuang.com diskusi dengan Sura, sampai sejauh ini pihak Pemerintah setempat belum pernah menyentuh atau memperhatikan kegiatan dan kondisi Sura, pedahal dilihat secara materi Sura sendiri kurang bercukupan dalam bidang ekonomi, hasil dari pembuatan gula tersebut hanya cukup untuk makan sehari – hari.

Baca Juga : Kisah Sukses Warga Lebak Penjual Kerupuk Kulit

“Saya menggeluti usaha di gula aren sendiri sudah lama, sudah puluhan tahun, akan tetapi hasil dari semuanya hanya untuk makan sehari hari saja, sejauh ini belum pernah ada aparat pemerintah yang mendatangi atau menanyakan tentang kondisi dan usaha saya, saya sendiri aja dari dulu tanpa bantuan siapapun,” Ucap kakek tua itu sambil mengeluh.(Red)