BOGOR, beritajuang.com – Kasus penyerobotan tanah merupakan tindakan kriminal yang dapat merugikan hak para pemilik lahan sebenarnya.
Aturan untuk masalah ini tercantum dalam pasal 385 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) buku kedua.

Menurut KUHP Buku II Bab XXV, pelaku dapat dituntut jika melakukan hal ini serta bisa mendapatkan hukum pidana maksimal selama empat tahun.
Pasal 385 dalam KUHP menyebutkan bahwa kejahatan ini termasuk bentuk kejahatan Stellionnaat.
Stellionnaat adalah aksi penggelapan hak atas harta tidak bergerak milik orang lain.

Begitupun yang terjadi kepada Rainold yang menjual tanah kepada Sunyoto. Ketika awak media menelusuri pada Hari senin, 22 Februari 2021, menggali informasi dari tokoh masyarakat (tomas), Mengenai perampasan hak garap tanah yang di jual Rainold ke Sunyoto maka kami team awak media investigasi ke lapangan mencari bukti otentik yang ada ke pihak terkait.

Diduga Wahab CS menyerobot Lahan Rainold Dan Sunyoto Seluas 7969 Meter
Diduga Wahab CS menyerobot Lahan Rainold Dan Sunyoto Seluas 7969 Meter

Rainold Bin Rainir adalah Warga penduduk Kampung Cikeas, Bojongkoneng, adalah pemilik asli Obyek Bidang Tanah seluas 7969M. Sebagian dijual Oper Alih Garap kepada saudara Sunyoto, dengan memberi penjelasan ke Wartawan beritajuang.com adanya dugaan perampasan lahan garapan di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Bogor.

Rainold pun memaparkan dalam wawancara dengan awak media masalah kepemilikan tanah atau bangunan beliau di Rampas oleh oknum orang yang tidak jelas bukti surat kepemilikan Lahan di pakai untuk Villa dan Resto.

Dalam investigasi kami juga mendapat info bahwa Rainold adalah penjaga/satpam di lahan tersebut, papar Dedi warga yang di temui tidak jauh dari lahan itu tersebut adalah lahan wahab, tapi dari awak media britajuang.com tidak percaya hanya dari orang lain, maka itu team awak media bertemu langsung dengan Rainold lagi untuk menjelaskan ke awak media yang sebenarnya.

Baca Juga : ITW Desak Aparat Hukum Usut Kualitas Jalan di Banten

Adapun pada saat kita bertemu dengan Rainold, kita tanyakan apakah benar beliau pernah menjadi penjaga lahan wahab, beliaupun menjawab tidak, artinya Pa Rainold tidak mengakui bahwa dia pekerja dari Wahab.

Rainold pun mejelaskan. “Bahwa Wahab adalah bukan asli warga bojong koneng, serta wahab ini hanya sekedar mengakui saja tanpa bukti,” ujarnya.

Dari kronologi singkatnya, Rainold menjual atau oper alih garapan ke tangan Sunyoto dengan pengurusan lengkap dengan berbagai surat resmi yg di keluarkan dan diketahui oleh pihak seperti Desa dan Staff Desa pada jaman dulu papar renol.

Salah satu yang turut membantu dalam pengurusan surat – surat dari pihak Desa Bojong Koneng, adapun dalam pertemuan antara awak media dengan para yang terkait atau yang menandatangani surat oper alih, yaitu Pipid waktu itu Kaur Pem Kantor Desa Bojong Koneng beserta ketua RT jaman dulu, yang bernama Mamun.

Baca Juga : Program BPNT/BSP di Cikeusik Bermasalah, Eksponen Pemuda: Pecat dan Proses Hukum Pendamping Sembako

Mereka mengakui dan atas legalitas ke absahan surat – surat yang dimiliki oleh sunyoto, yang telah diketahui oleh mereka, (Pipit dan Ketua RT, pada saat zaman dulu), atas over alih dari rainold ke sunyoto.

Maka itu Terjadi perampasan lahan yang sudah dibangun berdiri bangunan besar dan Mewah berupa Hotel Dan Restaurant, beserta Villa Cutating , yang berdiri diatas tanah rampasan milik Rainold Bin Rainir, dan tanah milik Sunyoto,(Red)