Riswanda, Ph.D, selaku Pakar Kebijakan Publik dalam menyampaikan materi ketahanan kota dalam kajian akademis, pada Sabtu (22/02/2020).
Riswanda, Ph.D, selaku Pakar Kebijakan Publik dalam menyampaikan materi ketahanan kota dalam kajian akademis, pada Sabtu (22/02/2020).

DEPOK, beritajuang.com – Ditengah-tengah isu intoleransi yang mencuat di publik. Sebanyak 40 orang Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) melaksanakan diskusi kebangsaan dengan tema ‘Ketahanan Kota Depok sebagai Kota Religius’, pada Sabtu (22/02/2020).

Hadir dalam diskusi kebangsaan ini selaku pemateri Ustadz Achmad Solechan, M.Si (Ketua PCNU Kota Depok), Pdt. Maxi Rumagit, M.Th (Theolog), drg. Hardiono, Sp.BM, MARS (Sekda Kota Depok), dan Riswanda, Ph.D (Pakar Kebijakan Publik UNPAD).

Pada jalannya diskusi tersebut Riswanda, Ph.D selaku Pakar Kebijakan Publik dalam memaparkan materi diskusi kebangsaan menyampaikan bahwa ada irisan-irisan yang sama antara agama dalam mempertahankan ketahanan khususnya ketahanan kota Depok sebagai Kota Religius.

“Semua agama berbicara tentang kebaikan. Irisan-irisan yang sama antara agama yaitu jangan berbuat kejahatan, jangan korupsi, dan jangan melakukan hal-hal yang tidak baik”, terang Riswanda dalam pemaparan materi.

Antusias Mahasiswa MAP UNTIRTA dalam berdiskusi tentang Ketahanan Kota sebagai Kota Religius.
Antusias Mahasiswa MAP UNTIRTA dalam berdiskusi tentang Ketahanan Kota sebagai Kota Religius.

Tanya jawab pun berjalan dengan lancar. Salah satu Mahasiswa Magister Administrasi Publik UNTIRTA, Nurul Auliah menanyakan tentang nilai-nilai agama yang harus diterapkan dalam keseharian dalam kehidupan.

“Jika nilai-nilai agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka ini akan memperkuat ketahanan kota sebagai kota Religius. Hanya saja saya melihat DPRD Kota Depok menolak rancangan peraturan daerah Kota Depok tentang penyelenggaraan Kota Religius. Ini tentunya saya melihat harus ada dukungan dari pihak Kota Depok agar ada payung hukum yang kuat untuk mengaplikasikan ketahanan kota sebagai kota Religius”, tutur Nurul Auliah.

Mohamad Iyos Rosyid yang sering di panggil Yosa dalam diskusi kebangsaan dengan tema Ketahanan Kota Depok sebagai Kota Religius, pada Sabtu (22/02/2020)
Mohamad Iyos Rosyid yang sering di panggil Yosa dalam diskusi kebangsaan dengan tema Ketahanan Kota Depok sebagai Kota Religius, pada Sabtu (22/02/2020)

Yosa yang memiliki nama lengkap Mohamad Iyos Rosyid selaku mahasiswa Magister Administrasi Publik UNTIRTA, kepada awak media memaparkan bahwa saat ini, nilai-nilai agama sudah mengalami degradasi di tatanan sosial kehidupan bermasyarakat.

“Ini harus menjadi permasalahan bersama agar nilai-nilai agama bisa menjadi pondasi dalam tatanan sosial kehidupan bermasyarakat. Pancasila sebagai pemersatu bangsa di setiap agama harus kita aplikasikan dalam kehidupan tatanan sosial. Karena nilai agama dan nilai Pancasila akan menjadi sebuah pondasi bagi bangsa dan negara. Ini adalah wujud ketahanan kota sebagai kota religius ditengah dinamika yang saat ini kita hadapi”, kata Yosa dalam paparannya kepada awak media.

Dalam kesempatan yang sama, Ipah Ema selaku Ketua Prodi Magister Administrasi Publik (MAP) UNTIRTA menyampaikan bahwa Forum Group Discussion (FGD) kebangsaan yang melibatkan Pakar Kebijakan Publik dan Mahasiswa diperlukan sebagai bentuk kepedulian terhadap formulasi kebijakan Publik secara kritis, aktif dan kreatif. Tentunya nilai-nilai Pancasila sebagai pemersatu bangsa Dan Pancasila Sebagai Dasar Negara melandasi Tema Diskusi mendorong Ketahanan Kota Depok sebagai Kota yang religius.

“Harapan saya diskusi ini menghasilkan rekomendasi kebijakan bidang keagamaan yg berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan pribadi warga negara dalam semua dimensi kehidupan mereka, sehingga mendapatkan dukungan Masyarakat”, jelas Ipah Ema yang saat ini menjabat Ketua Prodi MAP UNTIRTA. (MIR)

SMSI