PANDEGLANG, beritajuang.com – Waketum PUB Pusat Bidang Pertanian Dan Lingkungan Hidup Ki Prof Anton A . Sumadri berdialog dengan para petani Cikeusik yang berlangsung pada tanggal 2 Maret 2021 dari jam 20.30 sampai jam 23.00 bertempat di kediaman Bapak. Yandri di Kampung Kolecer, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang. Kamis, (04/03/2021).

Selain berdialog, Waketum PUB Pusat sekaligus membedah permasalahan yang menjadi penghambat bagi para petani yang berada di Cikeusik, setelah lamanya membedah masalah Waketum PUB Pusat menemukan beberapa permasalahan petani yang harus dicarikan solusinya. Permasalahan tersebut diantaranya:

1. Luas sawah di cikeusik sekitar 4700 Ha, akan tetapi 3 bendungan yang seharusnya mengairi sawah di Cikeusik sudah kurang atau tidak berfungsi, akibatnya kebanyakan sawah di Cikeusik menjadi sawah tadah hujan dan hanya bisa ditanami satu kali, dan sebagian maksimal 2 kali dalam setahun.
2. Semakin tingginya biaya produksi padi
A. Tenaga kerja sudah semakin sulit didapat, kalaupun ada upah tenaga kerja tinggi.
B. Pupuk bersubsidi langka sehingga terpaksa petani membeli pupuk non subsidi sehingga biaya pupuk bisa mencapai 3 juta rupiah per hektar dengan kebutuhan pupuk 500 – 600 kg per hektar, campuran pupuk urea dan NPK.
C. Kebutuhan pestisida tinggi dan mahal karena padi sering diserang hama WBC dan grayak.
D. Tenaga kerja pemanen padi sudah sulit dicari karena masyarakat banyak yang keluar daerah mencari pekerjaan menjadi pekerja di perkebunan sawit, tambang, dll. Oleh karena itu keberadaan combine harvester yang sudah tersedia di Cikeusik sangat diperlukan, tapi biaya penggunaan alat ini per hektar sekitar 2.4 juta rupiah.
3. Harga gabah masih dinilai rendah, pada musim kemarau sekitar 3800 rupiah per kg, sedangkan pada musim hujan harganya dari mulai 3000 sampai 3500 rupiah per kg. Yang juga menjadi masalah adalah harga gabah hasil gebotan dihargai lebih rendah yaitu sekitar 3000 rupiah per kg, sementara itu hasil panen combine harvester dihargai sekitar 3500 rupiah per kg.

Baca Juga:  Ini Sederet Tugas Para Kapolda Baru dari Kapolri
Waketum PUB Pusat Bidang Pertanian Dan Lingkungan Hidup Berdialog Dengan Para Petani
Waketum PUB Pusat Bidang Pertanian Dan Lingkungan Hidup Berdialog Dengan Para Petani

Dari hasil dialog dan membedah masalah Waketum PUB Pusat memberikan kesimpulan dan solusi atas permasalahan diatas sebagai berikut :

1. Masyarakat meminta agar 3 bendungan yang ada di sekitar Cikeusik segera dibangun kembali karena bendungan tersebut sudah lama sekali, dibangun di zaman pak Harto dan sudah banyak mengalami kerusakan. Jika bendungan Cibaliung diperbaiki maka indeks penanaman bisa meningkat 2 sampai 3, produksi padi di Cikeusik bisa ditingkatkan dua kali lipat. Hal ini akan jauh lebih efisien (hasil produksi dibagi biaya investasi) dibandingkan dengan pengembangan food estate yang ada di kalimantan tengah yang membutuhkan investasi jauh lebih besar per satuan luas sawahnya dengan hasil yang tidak lebih baik dari sawah yang ada di Cikeusik per hektarnya.
2. Disarankan agar petani Cikeusik menerapkan pertanian organik walau tidak sepenuhnya karena pupuk kimia dan pestisida masih dibutuhkan tapi secukupnya, misal pupuk dari 500 sampai 600 kg per hektar diturunkan menjadi 100 kg per hektar, caranya:
A. Jerami jangan dibakar tapi difermentasi lalu dikembalikan ke sawah sebagai pupuk dasar ditambah dengan pupuk kandang
B. Membuat pupuk organik padat dari biomassa yang ada di sekitar dan dari sampah basah, pupuk ini digunakan sebagai pupuk dasar.
C. Membuat pupuk organik cair dari kotoran ternak dan biang mikroba. Pupuk cair yg ditempatkan di drum atau ember yg ditempatkan di sawah, pembuatan pupuknya juga di sawah, digunakan untuk pemupukan setelah tanaman tumbuh secara periodik sesuai dengan umur tanaman.
3. Disarankan petani menjual hasil dalam bentuk beras agar mendapatkan nilai tambah dari hasil panen padinya. Kelompok tani harus mampu mengkordinasi gabah para petani untuk dijadikan beras dengan memanfaatkan penggilingan yang ada di sekitar Cikeusik. (Pri/Red)

Baca Juga:  Disdagperin Kota Bekasi Pastikan Harga Pangan Pokok Stabil